Awalnya Pasar Rakyat, lalu Kios Umat

Awalnya Pasar Rakyat, lalu Kios Umat

Awalnya Pasar Rakyat, lalu Kios Umat
(Selasa, 15/01/2013)

Salah satu kegiatan masal yang diselenggarakan oleh PBNU di berbagai daerah adalah Pasar Rakyat Indonesia (PRI). Kegiatan ini diselenggarakan di tingkat cabang oleh tim kerja yang ditunjuk oleh PBNU bekerjasama dengan pengurus cabang (PCNU) setempat.

Pada tahap pertama pasar Rakyat Indonesia sudah terlaksana di 29 titik (sampai 13 Januari 2013 di Banyuwangi) dan akan diselesaikan sampai 50 titik di Jawa. Tahap berikutnya, untuk tahun pertama dan kedua juga akan dilaksanakan masing-masing 50 titik ke berbagai cabang atau kota di Indonesia.

Berikut wawancara NU Online dengan Wakil Bendahara PBNU, Nasirul Falah, penggagas sekaligus pelaksana Pasar Rakyat Indonesia.

Ide pasar rakyat sebenarnya dari mana?

Ide pasar rakyat itu kan sebenarnya bagian dari keprihatinan PBNU terhadap pemberihan sumbangsih langsung kepada umat. Kemudian pada waktu itu di awal kepemimpinan Kiai Said, beliau mengatakan kepada saya, bagaimana kita ini harus memberikan sesuatu kepada warga, walaupun nilainya tidak seberapa tapi itu terasa. Lalu kemudian Kiai Said meminta saya untuk mencari bentuk. Akhirnya saya sampaikan kepada Kiai bahwa kita ini punya potensi. Saya akan melakukan yang namanya pasar rakyat.

Pasar Rakyat itu menjual produk dari luar?

Kita kalau menjual produk orang lain ya percuma. Nilai tambah atau value buat NU ini apa. Selain menjual, kita juga munculkan produk. Makanya Pasar Rakyat itu baru terselenggara bulan April karena kita tunggu minyak goreng kita Bintang Sembilan, dan Kartu Umat. Sebenarnya ide sudah lama sekali. Namun baru terselenggara April 2012 karena menunggu kesiapan produk kita sendiri. Mungkin tidak bisa memenuhi kebutuhan warga nahdliyin, tapi setidaknya sumbangsih PBNU kepada warga itu terasa.

Jadi produk andalannya dua?

Sementara dua. Bintang Sembilan itu brand. Bisa minyak goreng, bisa sabun yang sedang mulai kita produksi. Produk itu juga kita jual nantinya ke pasar bebas. Nah kalau warga NU mau membeli di kios umat dengan menunjukkan kartu umat itu lebih murah. Keunggulannya di situ.

Ada sembako murah juga?

Kalau sembako itu setiap pasar rakyat ada. Kalau beras itu harga 7 ribu rupiah, kita jual 4 ribu. Plus mie instan. Semua beras dan mie perpaket 5 ribu. Dan setiap pasar rakyat, tiga ton beras itu pasti habis.

Selain menjual produk, apa yang diinginkan dari penyelenggaraan pasar rakyat?

Yang paling utama lagi, perekonomian warga NU harus digugah. Adanya minyak goreng yang kita produksi, dan adanya kartu umat miliknya warga NU setidaknya ada nilai kebanggaan bagi warga NU sendiri. Tapi bukan sekedar kebanggaan. Makanya untuk kartu umat itu ada juga dana infaq yang sekarang (per-Januari) sudah menyentuh angka 100 juta. Nanti akan diserahkan pengelolaannya kepada LAZISNU. Sepuluh tahun yang akan datang diharapkan bisa memperoleh 1 miliar rupiah perbulannya. Ini bukan mimpi, tapi kenyataan.

Sekarang (per awal Januari) yang sudah berjalan berapa titik?

Sudah 29 kota. Tinggal 21 kota lagi. Ini baru tahun pertama. Yang 11 kota ini akan selesai Juni atau Juli. Tahun kedua ada 50 kota dan tahun berikutnya 50 kota lagi sampai menjelang Muktamar.

Pasar rakyat selalu diselenggarakan setiap Sabtu-Ahad?

Ya. Rangkaian pasar rakyat juga ada workshop. Nah dalam workshop ini sebenarnya kita berharap kalau ada lembaga-lajnah NU ingin ikut berpartisipasi, saya sangat senang. Dan tema besarnya selalu wirausaha.

Kegiatan ini selalu diselenggarakan oleh tim dari PBNU bersama PCNU setempat?

Ya. Dan cabang tidak mengeluarkan biaya, PBNU malah yang berkontribusi. Tempat kita survei bersama. Mana daerah paling membutuhkan sembako kita pilih, tentu atas arahan cabang. Lalu cabang yang mengkoordinasikan keamanan, izin, dan konsumsi. Alhamdulillah selama ini tidak ada yang mengeluhkan.

Pasar rakyat dikerjakan hanya sampai tingkat cabang?

Kelanjutan pasar rakyat ini nanti ada yang namanya “kios umat”. Kios umat yang kita bentuk ini sudah hampir 12 tempat. Di situ nanti akan kita jual produk-produk unggulan kita yang sangat diperlukan warga misalnya minyak goreng dan beras. Mereka akan mendapatkan harga lebih murah jika hp-nya memakai kartu umat. Kenapa begitu? Di negara kita ini apa-apa mahal karena semua dari hulu ke hilir ini dikuasai pengusaha dan warga kita terjebak dalam arus lingkaran itu. Jadi kalau barang dari kita ini dari pabrik ya langsung kita jual ke warga. Nah tindak lanjut program ini sampai ke ranting ini bentuknya ya kios umat itu.

Kios umat ini seperti apa?

Seperti Alfamart begitu. Kita sedang melakukan riset. Paling tidak kios umat itu nanti seperti koperasi sejahtera.

Sistem kepemilikannya seperti apa?

Itu nanti bisa konsinyasi, juga bisa franchise. Jadi kita jangan terjebak pada sistem shodaqoh, karena kita ini bisnis. Kita ingin membangun ekonomi umat. Jadi kalau aturan mainnya ini kita jalankan insyaallah ke bawahnya juga akan terasa. Jadi setiap warga yang mempunyai tempat dan siap bekerjasama dengan kita atau misalkan dia juga sudah mempunyai warung yang sudah berdiri lalu kita branding begitu, juga tidak apa. (*)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,41794-lang,id-c,halaqoh-t,Awalnya+Pasar+Rakyat++lalu+Kios+Umat-.phpx

Advertisements

MUNAJAT KAUM BINATANG

MUNAJAT KAUM BINATANG

Puisi karya: KH A Musthofa Bisri – wakil Rais Am PBNU

Munajat Kaum Binatang

“liputan eksklusif dari pertemuan rahasia masyarakat binatang di alam”

syahdan, di suatu malam yang senyap
ketika malaikat rahmat turun menawarkan ampunan
dan sekalian manusia lelap
para binatang dari berbagai etnis dan golongan yang masih tersisa di muka bumi
dari golongan binatang buas, binatang air, unggas, ternak, serangga
dan segenap binatang melata
diam-diam berkumpul di padang terbuka
yang dahulu merupakan rimba belantara tempat tinggal mereka
untuk membicarakan nasib mereka
kaitannya dengan kelakuan dan perlakuan manusia
yang kezalimannya semakin merajalela

dalam pertemuan akbar masyarakat binatang itu
semua kelompok menyampaikan keluhan yang sama
domba, kambing, buaya, ular, tikus, anjing, kecoak, kerbau misalnya
menyatakan bahwa selain dilalimi
selama ini nama mereka telah digunakan dan dinodai oleh manusia
dengan semena-mena

setelah semua menyampaikan keluhannya
tentang nasib mereka yang kian sengsara akibat ulah manusia
dan mengakui ketidakberdayaan mereka
akhirnya disepakati
saat ini juga mengadukan ihwal mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

demikianlah unta yang mereka tunjuk memimpin doa
dengan khusyuk mulai memanjatkan munajatnya
dan sekalian binatang mengamininya

“ya Allah… ya Tuhan kami… Ampunilah kami
malam ini kami
yang masih tersisa dari makhluk binatang
berkumpul menyampaikan keluhan kami kepada-Mu
kepada siapa lagi kami mengeluh kalau bukan kepada-Mu ya Tuhan
dan ampunilah kami bila kami tergesa-gesa menyampaikan munajat kami ini
sebelum kaum manusia yang Kau angkat menjadi Khalifah-Mu
memergoki dan menghabisi kami
perkenankanlah kami menyampaikan jeritan kami
istigotsah kami”

“ya Allah… ya Tuhan Yang Maha Mengetahui
karena Engkau selama ini kami siap mengabdi dan rela berkorban untuk manusia
tapi manusia
atas nama khalifah dengan sewenang-wenang melalimi kami
mereka jarah tempat tinggal kami
atau memorak-porandakannya
mereka rampok makanan kami
atau menghancurkannya
mereka rebut peran kami
atau menghentikannya
mereka saingi naluri kami
atau mengalahkannya
mereka santap keturunan kami
atau memusnahkannya
mereka rampas
kehidupan kami
sebelum sempat kami bermain”

“Engkau beri mereka kekuasaan atas dunia
namun mereka membiarkan diri mereka dikuasai dunia
maka semakin hari
kelaliman dan keisengan mereka semakin menjadi-jadi
puji syukur bagi-Mu ya Tuhan…
Engkau telah menghajar mereka melalui tangan-tangan mereka sendiri
mereka kini panik
di antara mereka bahkan ada yang menjadi kalap
dengan bangga
mereka saling terkam dan saling basmi
mencabik-cabik kemanusiaan mereka sendiri
dan kami pun semakin mulai tak bisa mengenali mereka
karena mereka sudah sama dengan kami
bahkan dalam banyak hal
mereka melebihi kami sendiri”

“ya…Allah… ya Tuhan Yang Maha Adil
kami akui kadang-kadang kami saling terkam dan memangsa
namun Kau tahu karena kami terpaksa
bukan karena kerakusan dan kebencian
di antara kami memang ada yang kejam
tapi kami tidak membakar dan kami tidak menghisap
dan sengaja memusnahkan
karena kami tahu itu hak-Mu semata
mereka bahkan dengan berani
membawa-bawa nama-Mu
untuk mnghancurkan nilai-nilai ajaran-Mu yang mulia
atas nama-Mu
mereka meretas tali persaudaraan yang Engkau suruh jalin
atas nama-Mu
mereka mengobarkan kebencian yang Engkau benci”

“ya..Allah… ya Tuhan kami Yang Maha Bijaksana
kini kalangan manusia ada juga yang mengadakan Istighotsah karena merasa bersalah
tapi apakah ada yang benar-benar merasa bersalah
mereka tidak malu terus meminta kepada-Mu
padahal segala yang mereka perlukan
yang mereka minta atau yang tidak mereka minta
terus Engkau limpahkan kepada mereka
dan mereka nikmati tanpa mereka syukuri”

“ya Allah, ya Tuhan kami Yang Maha Pengasih
kami lah yang lebih pantas melakukan Istighotsah
karena kami adalah makhluk-Mu yang paling lemah
karena kami adalah makhluk-Mu yang paling kalah
ya Allah, ya Tuhan Yang Maha Pemurah…
kami tidak meminta apapun untuk diri kami
kami sudah puas dengan apa yang Engkau anugerahkan kepada kami
kami hanya meminta untuk kebaikan khalifah-Mu
karena dengan kebaikan mereka
kami dapat dengan tenang bersujud dan bertasbih kepada-Mu
kami memohon ampunan untuk mereka
ampunilah mereka ya Tuhan
terutama untuk mereka yang tidak merasa perlu memohon ampunan
karena tidak merasa bersalah
atau tidak merasa malu

“ya Tuhan kami…
jangan terus Kau biarkan kalbu mereka tertutupi dosa dan noda
sehingga nafsu terus menguasai mereka
dan mengaburkan pandangan jernih mereka

ya Tuhan… sadarkanlah mereka
akan hakikat kehambaan
dan kekhalifahan mereka
agar mereka tetap rendah hati meski berkuasa
agar mereka tidak terus asik hanya dengan diri mereka sendiri
agar kelamin mereka tak terkalahkan oleh hawa nafsu dan setan
agar kasih sayang mereka tak terkalahkan oleh dendam dan kebencian
agar mereka tidak menjadi laknat
dan benar-benar menjadi rahmat bagi alam semesta
ataukah Engkau ya Tuhan
memang hendak mengganti mereka
dengan generasi yang lebih beradab
amiiin

* Puisi ini dibacakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri dalam Pidato Budaya Gus Mus yang diselenggarakan pada peringatan harlah ke-79 GP Ansor di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Nahdlatul Ulama

 Nahdlatul Ulama

Sejarah

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana–setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.

Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi’dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy’ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Orang Mampu Mengaku Miskin

Orang Mampu Mengaku Miskin

Orang Mampu Mengaku Miskin

Sering kita jumpai orang mampu tapi mengaku orang miskin. Pengakuan tersebut sebenarnya lebih dikarenakan faktor mental, yakni orang tersebut bermental miskin, karena keserakahannya terhadap harta yang ingin dimilikinya. Orang seperti itu tidak akan merasa cukup sebelum semuanya menjadi milik dia.

Oleh karena itu, pengelola zakat harus berhati-hati dalam menyalurkan zakatnya jangan sampai salah sasaran ke tangan orang yang bukan mustahiq. Jika pemberian itu berupa hibah memang orang yang mampu berhak menerimanya. Asalkan penerima adalah orang yang membutuhkan atau pemberi hibah bermaksud mencari pahala.

Dalam I’anatut-Thalibin disebutkan bahwa jika ada seseorang yang membayar zakat sebelum waktunya (ta’jil), dan orang fakir penerima zakat itu sudah tidak berhak lagi menerima zakat ketika waktu zakat tadi tiba, maka harta yang telah dizakatkan diambil lagi oleh muzakki. Memang orang yang mengaku fakir dan miskin bisa dibenarkan tanpa melalui sumpah, hanya saja orang kaya tidak mendapat bagian zakat. Demikian juga dijelaskan dalam Ma’rifatus-Sunan wal Atsar yang disusun Al-Baihaqi, “Tidak sah shadaqah diberikan kepada orang kaya dan orang mampu.”

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fii Syarhil Minhaj, Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan: “Jika pemberian diwakilkan kepada orang lain, dan barang diberikan kepada orang yang tidak diizinkan oleh muwakkil, maka penerima barang harus menggantinya (dhaman).” Demikian juga seorang karyawan atau pekerja yang mengaku belum dibayar (diberi upah) padahal sudah dibayar. Kemudian orang tersebut diberi upah, maka pemberian tersebut tidak halal baginya.

Hal ini dikarenakan dia telah berbohong sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar: “Jika seorang pekerja mengaku belum dibayar (diberi upah) secara bohong, kemudian ia pun diberi upah, maka ia tidak halal baginya untuk menerimanya dan ia tidak bisa memiliki upah tersebut.”

Dengan kata lain orang yang mampu dan berada tetapi mengaku-ngaku miskin dengan tujuan medapatkan zakat dan kemudian ia mendapatkan zakat. Sesungguhnya zakat yang diterimanya menjadi barang yang haram bagi dirinya. Wallahu a’lam bish shawab. (Sumber: Konsultasi Zakat LAZIZNU dalam Nucare yang diasuh oleh KH. Syaifuddin Amsir / Red. Ulil H)

Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat

Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat

Sewaktu Sahabat Abu Bakar menjadi khalifah menggantikan Rasulullah SAW, maka ia adalah seorang yang sangat tegas dalam menarik zakat kepada para saudagar dan orang-orang kaya yang telah memiliki banyak kelebihan harta.

Khalifah Abu bakar tercatat senantiasa bertindak tegas kepada siapa pun yang membangkang membayar zakat. Pada zaman itu, negara bertindak sebagai satu-satunya pihak yang berhak mendistribusikan dana zakat yang diperoleh dari para penyetor zakat. Pada waktu itu belum tersedia jasa swasta untuk menyalurkan zakat. Karenanya, jika tidak dibagikan sendiri secara langsung kepada orang-orang yang berhak, tentu negara lah yang akan mengambil alih pengelolaannya.

Sahabat Abu Bakar RA selalu bertintak sesuai prosedur yang telah disepakati oleh nagara, pertama-tama dikirimkanlah surat kepada setiap gubernur yang membawahi daerah-daerah kekuasaan Islam untuk menyiapkan perangkat-perangkat penarik zakat. Mulai dari personil, perlengkapan hingga patung hukum yang dapat membantu pelaksanaan penarikan zakat tersebut.

Dalam surat-suratnya tersebut, Abu Bakar menyatakan bahwa zakat adalah ibadah wajib (fardhu) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum muslimin yang telah memenuhi kualifikasi.

Termasuk surat-surat Abu Bakar selalu menyebut bahwa zakat harus diberikan menurut kadar kebutuhan seseorang. Abu Bakar melarang keras untuk memberikan zakat melebihi ketentuan semestinya. Ia melarang setiap amil zakat untuk memberikan jatah zakat diluar ketentuan, meskipun mereka memintta lebih. (HR. Ahmad, Nasa’i, Abu Daud, Al-Bukhari dan ad-Daraquthni)

Ketika sepeningal Rasulullah ternyata orang-orang Arab, kembali menolak membayar zakat, maka Abu Bakar segera berunding dengan sahabat Umar RA. Tentang tindakan apa yang harus mereka ambil terhadap para pembangkang tersebut. Apakah mereka dapat diperangi karena menolak membayar zakat?

Karena dimintai pendapat oleh Khalifah, maka Umar pun angkat bicara, “Demi Allah, tiada lain yang aku lihat selain Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku pun tahu bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang benar.” (HR. Abu Daud, shahih)

Anam

( sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,46384-lang,id-c,hikmah-t,Ketegasan+Abu+Bakar+Soal+Zakat-.phpx )

HASAN GIPO

HASAN GIPO

HASAN GIPO
Sudagar-Aktivis, Ketua Tanfidziyah NU Pertama

Tokoh yang satu ini sangat terkenal, karena dialah orang yang pertama kali medampingi Kiai Hasyim Asy’ari dalam mengurus NU. Walaupun tokoh itu terkenal, tetapi sangat sedikit diketahui, sehingga kehadirannya masih sangat misterius.

Ia lahir dari lingkungan keliuarga santri yang kaya, yang bertempat tinggal di kawasan perdagangan elite di Ngampel yang bersebelahan dengan pusat perdagangan di Pabean, sebuah pelabuhan sungai yang berada di tengah kota Surabaya yang berdempetan dengan Jembatan Merah. Dinasti Gipo ini didirikan oleh Abdul Latif Sagipoddin (Tsaqifuddin) yang disingkat dengan Gipo.

Mereka ini adalah masih santri bahkan kerabat dari Sunan Ampel, karena itu keislamannya sangat mendalam, sebagai pemuda yang hidup dikawasan bisnis yang berkembang sejak zaman Majapahit itu, Sagipoddin memiliki etos kewiraswastaan yang tinggi.

Prosesi bisnisnya ditekuni mulai dari pedagang beras eceran, dengan cara itu ia memiliki kepandaian tersendiri dalam menaksir kualitas beras. Keahliannya itu semakin hari semakin tenar, sehingga para pedagang dan terutama importir beras banyak yang menggunakan jasanya sebagai konsultan kualitas beras. Dengan profesinya itu ia mulai mendapat banyak rekanan bisnis dengan modal keahlian bukan uang.

Ketika usinya sudah menjelang dewasa, ia diambil menantu oleh seorang saudagar Cina. Engan modal besar dari mertuanya itulah ia bisa melakukan impor beras sendiri dari Siam, sehingga keuntungannya semakin besar dan semakin kaya. Perjalannya ke luar negeri semakin memperbesar rekanan bisnisnya, beberapa pengusaha dari Pakistan, Arab Persia dan India digandeng, sehingga semakin memperbesar volume ekspornya.

Selain itu juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan mengimpor tekstil dari India. Karena itu ia menjadi pengusaha besar di kawasan perdagaangan Pabean, sehingga tanah-tanah di situ dikuasai.

Tetapi ketika perkembangan bisnisnya terlalu ekspansif, maka akhirnya ia kebobolan juga, karena beras yang diimpor dari Siam itu dipalsu oleh rekanan bisnisnya dari Pakistan ditukar dengan wijen, yang waktu itu harga wijin sangat rendah dibanding harga beras. Selain itu wijen tidak dibutuhkan dlam skala besar. Dengan penipuan itu bisnisnya sempat limbung selama beberapa bulan. Modal mandek, uang tidak bisa diputar karena tertimbun menjadi wijen yang tidak laku dijual, paling laku satu dua kilo untuk penyedap makanan. Sebagai anak muda yang baru bangkit, sangat terpukul dengan penipuan itu.

Namun mertuanya yang pengusaha kawakan itu tidak menyalahkan malah menyabarkan, karena kerugian merupakan risiko setiap bisnis. Ini sebuah cobaan dari Allah yang harsu diterima. Dengan sabar, syukur dan tawakkal serta usaha keras Insyaallah suatu ketika keuntungan akan diperoleh kembali, demikian nasehatnya. Sebagai seorang santri yang taat ia hanya bisa pasrah dan berdoa serta tetap berusaha.

Di tengah kelesuan bisnisnya itu tiba-tiba pemerintah Belanda membutuhkan wijen dalam jumlah besar. Tentu saja tidak ada pengusaha yang memiliki dagangan yang aneh itu, setelah dicari kesana kemari akhirnya Belanda tahu bahwa Sagipoddin memiliki segudang wijen. Belanda sangat senang dengan ketersediaan wijen yang tak terduga itu, karena itu berani membeli dengan harga mahal.

Bak pucuk dicinta ulam tiba, maka minat Belanda itu tidak disia-siakan. Karena wijen itu dulunya dibeli seharga beras, maka Sagipoddin minta sekarang dibeli dengan seharga beras. Belanda yang lagi butuh tidak keberatan dengan harga mahal yang ditentukan itu, lalu dibelilah seluruh wijen Sagipoddin, maka keuntungan yang diperoleh berlipat ganda, sehingga perdaganannya juga semakin besar.

Keuntungan itu dipergunakan untuk mempercepat ekspansi bisnisnya, dan kawasan perdagangan yang strategis mulai dibelinya, yang kemudian dijadikan pertokoan dan pergudangan. Akhirnya ia juga bisnis persewaan toko, penginapan dan pergudangan. Sebagai seorang santri taat ia banyak pergunakan hartanya untuk sedekah membangun pesantren dan masjid.
Banyak kiai besar yang diundang kerumahnya, Sagipoddin sangat senang bila kia yang berkunjung mau menginap di rumahnya, maka pulangnya mereka diberi berbagai macam sumbangan untuk pembangunan sarana pendidikan dan ibadah, sehingga dalam waktu singkat Sagipoddin sangat terkenal di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Walaupun ia bukan ulama tetapi karena masih keturunan ulama, maka ia sangat hormat dan mencintai ulama.

Abdul Latif Sagipuddin ini menikah dengan Tasirah mempunyai 12 orang anak, salah satunya bernama H. Turmudzi, yang kawin dengan Darsiyah, mempunyai anak yang bernama H. Alwi, kemudian Alwi mempunyai sepuluh orang anak yang salah satunya bernama Marzuki. Dari H Marzuki itulah kemudian lahir seorang anak yang bernama Hasan, yang lahir pada 1896 di Ampel pusat kota Surabaya yang kemudian dikenal dengan Hasan Gipo. Jadi ia merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo.

Sebagai seorang yang mampu secara ekonomi Hasan Gipo juga mendapatkan pendidikan cukup memadai selain belajar di beberapa pesantren di sekitar surabaya, juga sekolah di pendidikan umum ala Belanda. Meskipun mendapatkan pendidikan model Belanda tetapi jiwa kesantriannya masih sangat kental dan semangat kewiraswastaannya sangat tinggi, sehingga kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dipegang oleh keluarga itu, hingga masa Hasan Gipo.

Karena hampir seluruh kiai Jawa Timur merasa sebagai santri dan pengikut Sunan Ampel, maka setiap saat mereka berziarah ke makam keramat di kota Surabaya itu. Kunjungan mereka itu banyak disambut oleh keluarga Gipo di Ampel. Persahabatan Hassan Gipo dengan para ulama yang telah dirintis kakeknya terus dilanjutkan, sehingga ia sangat dikenal oleh kalangan ulama, sebagai saudagar, aktivis pergerakan �dan administratur yang cerdik. Tidak sedikit pertemuan para ulama baik untuk bahsul masail maupun untuk membahas perkembangan politik yang dibeayai dan difasilitasi oleh Hasan Gipo. Sebagai sesama penerus Sunan Ampel dan sesama sudagar membuat Hasan Gipo sering bertemu dengan KH Wahab Hasbullah dalam dunia pergerakan.

Sebagai seorang pedagang dan sekaligus aktivis pergerakan yang tinggal di kawasan elite Surabaya, hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Dialah yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Di situlah Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti dan masih banyak lagi. Di situlah para aktivis pergerakan nasional baik dari kalangan nasionais dan santri bertemu merencanakan kemerdekaan Indonesia. (Bersambung….)

Abdul Munim DZ
(Disadur dari beberapa sumber dan hasil wawancara dengan H. Musa Jassin, salah seorang anggota Bani Gipo, yang tinggal di Kawatan Surabaya. Foto: Koleksi Museum NU di Surabaya)

KH Abdullah asy-Syafi’ie – Ulama Besar dan Tokoh Betawi yang Sangat Dihormati

KH Abdullah asy-Syafi'ie - Ulama Besar dan Tokoh Betawi yang Sangat Dihormati

Kiai “produk Betawi” yang sangat disegani dan menjadi panutan dalam berdakwah ini lebih memilih mengaji ketimbang belajar menjadi pedagang.

Orang Betawi, terutama tetangganya di Kampung Balimatraman, tempat dia dilahirkan, memanggilnya Dulloh. Abdullah dilahirkan pada 16 Sya’ban 1329 bertepatan dengan 10 Agustus 1910 sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya, H. Syafi’ie bin H. Sairan Ibunya Nona binti Asy’ari,dan kedua adiknya perempuan, Siti Rogayah dan Siti Aminah.

Ia sekolah formal hanya sampai kelas dua sekolah dasar. Mungkin itu merupakan sikap pemberontakannya terhadap orangtuanya yang ingin dia menjadi pedagang, sementara dia sendiri bercita-cita menjadi guru mengaji.

Tidak mengheranka bila Dulloh kemudian lebih sering menyambangi guru mengaji yang banyak terdapat di seantero betawi. Setelah berjalan beberapa tahun, dia lebih banyak mengaji pada Guru Ahmad Marzuki (Cipinang), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Ali bin Husein Al-Attas (Bungur), dan Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad (Bogor).
Bahkan, untuk menghormati salah satu gurunya itu, Habib Alwi Al-Haddad, ia sengaja menamakan anak sulungnya, kebetulan perempuan, Alawiyah, yang kemudian dikenal sebagai Tuty Alawiyah yang pernah menjadi menteri pada era Presiden BJ. Habibie.

Dengan Habib Ali Kwitang, dia bahkan diberi semangat untuk meneruskan menggarap dakwah di seputar Betawi. Ini menunjukkan betapa piawai Abdullah dalam berdakwah, sehingga sang guru secara khusus memberinya amanat seperti itu. Dan amanat itu dia tunaikan dengan sangat sempurna, sehingga ketika wafat, dia meninggalkan ribuan murid. Takhanya itu, dia juga mewariskan 33 lembaga pendidikan Islam, mulai dari TK sampai Universitas, serta 19 lembaga dakwah. Tinggalannya yang lain adalah 11 lembaga sosial yang tersebar di Balimatraman, Jatiwaringin, Cilangkap, Bukit Duri, Payangan dan Kelapa Dua, semuanya di Jakarta. Santrinya mencapai 7000 orang, 1200 anak di antaranya santri yang mondok.

Kepada Habib Kwitang, Abdullah belajar tentang dakwah dan khutbah, sementara kepada Habib Bungur, ia belajar tasawuf, kepada Habib Alwi Al-Haddad, ia belajar nahwu dan sharaf, dan kepada Guru Marzuki, ia belajar Al-Qur’an.

Pada umur 17 tahun tepatnya pada 1927, dia mulai mengamalkan ilmunya dengan membuka pengajian kecil-kecilan di rumahnya. Untuk itu, dia mengubah kandang sapi milik bapaknya. Sapi dijual, kandang dibersihkan, dan jadilah mushalla, tempat pengajian yang awalnya hanya diikuti oleh lima orang tetangganya yang umurnya lebih tua darinya dan dengan tingkat ekonomi yang lemah. Untuk praktik shalat, dia membagikankain sarung kepada mereka. Pada gilirannya, mushalla itu meningkat menjadi madrasah sesuai dengan meningkatnya jumlah murid. Madrasah yang dia beri nama Al-Islamiyah ini merupakan cikal bakal Pesantren As-Syafi’iyyah yang dikenal hingga kini.

Pada 1933, ketika berusia 23 tahun, dia mulai merintis pendirian masjid jami’ di tanah kelahirannya, Balimatraman. Tentu saja ini dimulai dari pembebasan tanah seluas 2000 meter persegi yang dibeli dari tetangga kiri-kanan sampai dengan pendirian masjid berukuran 40×40 m2. Tidak mengherankan bila pembangunan mesjid, yang kemudian dia beri nama Masjid Al-Barkah itu berjalan lambat, meski sebenarnya ada orang yang menyediakan dana besar. Masalahnya, dengan membangun mesjid itu, Abdullah juga ingin memberikan kesempatan kepada orang kecil yang ingin membantunya mewujudkan masjid tersebut. Dari mereka inilah, Abdullah mendapatkan bantuan mulai dari segenggam paku, segerobak pasir, segenggam semen , sebatang kayu, dan sebagainya, yang berupa material bahan bangunan.

Pada dasawarsa 1940-an, ia mulai membangun madrasah ibtidaiyah dan menampung murid yang mukim (tinggal), terutama dari kalangan keluarga. Hal ini berkesinambungan sampai tahun 1957, ketika dia membangun Aula Asy-Syafi’iyyah yang diperuntukkan bagi Madrasah Tsanawiyah Lilmuballighin wal Muallimin. Pada 1965 ia mendirikan Akademi Pendidikan Islam Asy-Syafi’iyyah sebagai cikal bakal Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah yang dibuka sejak 1968.

Di lokasi ini pula dia kemudian membangun pesantren putra dan putri tepatnya pada 1974, dan pesantren khusus untuk anak yatim dan fakir miskin pada 1978. Pemusatan Lembaga Pendidikan Asy-syafi’iyyah di Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, bermula pada 1980. Di pesantren inilah, makam Kiai Abdullah Syafi’ie berada.

Ketika radio amatir marak di Jakarta, dia juga memanfaatkan alat komunikasi ini sebagai media dakwah sejak 1967. Setiap ba’da subuh suaranya menggema lewat radio Asy-Syafi’iyyah yang diistilahkannya sebagai “jauh di mata dekat di telinga”. Dengan radio ini, sayap Asy-Syafi’iyyah makin meluas ke seluruh pelosok Jakarta dan sekitarnya, terutama dalam menunjang kegiatan pendidikan Islam dalam lingkungan Keluarga Besar Asy-Syafi’iyyah.

Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) dibentuk, dia terpilih sebagai salah satu ketua, sedangkan utuk tingkat DKI, dia menjadi ketua umum selama dua periode.

Kiprahnya di MUI merupakan bentuk keseriusannya dalam memikirkan pendidikan para ulama dengan mendirikan pesantren tinggi, yaitu Ma’had Aly Daarul Arqom Asy-Syafi’iyyah di Jatiwaringin.

Selama hidupnya, Kiai Abdullah selalu membangun umat untuk mensyi’arkan agama Islam dengan mendirikan masjid, mushola dan madrasah, serta pesantren. Ia juga menggalakkan umat untuk berani dan suka dengan amal jariyah, infaq, sodaqoh, serta berwakaf. Kaum ulama dan asatidzah diajaknya bersatu. Ia juga memberikan kesempatan pada asatidzah dan ulama muda untuk tampil di tengah masyarakat. Untuk itu dia menyelenggarakan Majelis Mudzakarah Ulama dan Asatidzah.
Dari koceknya sendiri, Kiai Abdullah tidak segan-segan menyalurkan bantuan untuk menyantuni para dhuafa dengan bantuan berupa beras, pakaian, uang dan sebagainya.

Pada selasa dini hari 3 September 1985 atau 18 Dzulhijjah 1405 pukul 00.30, KH. Syafi’ie berpulang ke Rahmatullah saat dalam perjalanan ke RS. Islam, Cempaka Putih, Jakarta Pusat dalam usia 75 tahun. Jenazahnya dimakamkan hari itu juga di Pesantren Putra Asy-Syafi’iyah Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi dengan penghormatan luar biasa dari Jama’ah.
Jalan sepanjang 14 km antara Balimatraman dan Jatiwaringin menjadi lautan manusia, sehingga upacara pemakaman molor hampir 3 jam. Lima kilometer menjelang jatiwaringin, mobil jenazah dimatikan mesinnya, kemudian didorong secara bergantian oleh para pentakziah sebagai rasa penghormatan terakhir mereka kepada Ulama kebanggan masyarakat Betawi itu.

Emil Salim, Menteri Perhubungan kala itu tepat sekali menggambarkan sosok Abdullah Syafi’ie. “Gagasan Beliau laksana api yang membakar jasadnya dan beliau mampu mewujudkannya. Sebagai ekonom, saya tahu tidak mudah mengusahakan dana untuk proyeknya, yaitu pembangunan masjid Al-Barkah di Balimatraman dan Universitas Syafi’iyyah di Jatiwaringin. Tapi bagi Beliau, rizki soal mudah. Nyatanya memang demikian. Tiap kali Beliau mengungkapkan idenya, masyarakat datang berduyun-duyun, menyumbang mulai dari paku, pasir, semen, batu, bahkan mobil. Ini benar-benar luar biasa,” katanya kepada wartawan.

Bersama Ir. Sutami, menteri pekerjaan umum, pada dekade 1970-an, Ia diminta K.H. Abdullah Syafi’ie meninjau Jatiwaringin yang akan dijadikan pusat kegiatan Perguruan Asy-Syafi’iyah. Sutami menjanjikan fasilitas listrik dan air, sementara Emil Salim membantu di bidang pendidikan, sebagai dosen, rektor, kemudian tim penasehat.

(sumber: https://sites.google.com/site/pustakapejaten/manaqib-biografi/7ulama-nusantara/kh-abdullah-asy-syafi-i )